Mahasiswa Teknik Elektro ITS meraih medali emas PIMNAS 2016,
Saturday, 10 September 2016 14:56

Smart Heart Monitor Untuk Deteksi Dini Serangan Jantung

 

Serangan jantung adalah pembunuh nomor satu di dunia. Risiko serangan jantung memang dapat diketahui melalui serangkaian pemeriksaan oleh dokter, namun kebanyakan orang enggan melakukannya. Untuk itu, Theo Wiranadi Hendrata, mahasiswa jurusan Teknik Elektro ITS beserta ketiga rekannya menciptakan Smart Heart Monitor (SHM). SHM adalah alat untuk mendeteksi serangan jantung secara real-time, serta dilaporkan pada penggunanya melalui aplikasi android. Karya inovatif yang bertajuk SHM: Electrocardiogram Portabel berbasis Raspberry Pi yang terintegrasi android sebagai pendeteksi kelelahan dan pencegah serangan jantung tersebut telah berhasil meraih medali emas dan perak di ajang Pekan Ilmiah Mahsiswa Nasional (Pimnas) 29 di IPB, 8-11 Agustus.

 

Diungkapkan Theo, selama ini sudah ada alat portabel yang berfungsi untuk memonitor sinyal jantung, namun hanya sebatas pada merekamnya saja. "Rekaman itu diberikan kepada dokter untuk dianalisa lebih lanjut," ungkapnya. Hal tersebut dirasakan kurang efektif karena indikasi serangan jantung tidak dapat dideteksi secara langsung. Oleh karena itulah diciptakan SHM. Desain SHM yang portable memungkinkan alat ini dapat memantau aktivitas jantung penggunanya setiap saat. Artinya, ketika ada yang tidak beres dengan irama sinyal jantung, alat ini akan segera memberikan peringatan kepada penggunanya melalui aplikasi android.Dalam bahasa yang sederhana, SHM bekerja dengan cara menangkap sinyal jantung melalui tiga buah elektroda yang ditempelkan pada bagian dada. Kemudian sinyal tersebut akan diproses dan ditampilkan pada layar dalam bentuk gelombang. "Apabila dijumpai indikasi serangan jantung dari tampilan gelombang ini, SHM akan segera mengirim peringatan pada penggunanya," terang mahasiswa Jurusan Teknik Elektro ITS ini. Jantung setiap orang memiliki batas maksimal yang berbeda dalam bekerja, yang secara umum dipengaruhi oleh umur. Oleh karena itu dibutuhkan semacam peringatan untuk membatasi aktivitas seseorang agar tidak sampai berlebihan, guna menghindari risiko serangan jantung. "Peringatan yang dimaksud akan diberikan apabila aktivitas jantung pengguna telah melebihi angka 80 persen dari batas maksimalnya. Kalau sudah melebihi 80 persen batas maksimalnya, pengguna harus segera beristirahat," tuturnya. Theo sangat menyayangkan sikap kebanyakan orang cenderung mengabaikan risiko serangan jantung. Padahal gejala terhadap penyakit ini sebenarnya dapat dideteksi dengan banyak cara, termasuk alat ini. Dengan adanya alat ini, Theo berharap agar pengguna dapat lebih waspada dengan kondisi jantungnya. Sehingga di masa depan, angka kematian karena serangan jantung dapat lebih ditekan.